Personal Branding Sukses Karier Di Era Milenial

Personal Branding Sukses Karier Di Era Milenial . Saat jalan-jalan ke mall, apa pernah mengamati para pengunjung? Minuman atau cemilan apa saja yang dibeli? Banyak minuman kopi, tapi merek dengan harga yang lumayan menguras kantong masih menjadi primadona, atau bertebaran pilihan varian merek minuma boba, tapi apa pernah bertanya, mengapa seseorang membeli produk tersebut daripada minuman lainnya yang harganya yang mungkin tidak jauh berbeda. Itulah keberhasilan suatu merek yang sudah melekat di pikiran para konsumen, kalau minum teh botol ya merek A, kalau minum kopi ya pasti merek B, dan lain sebagainya. Banyak varian yang beredar, tapi setiap brand memiliki keunikan tersendiri. Tidak terkecuali dengan personal branding.

 

Jika merek sudah melekat, dan mampu memberikan value untuk konsumen, berapapun harganya akan tetap menjadi daya tarik. Sebagai contoh yang sudah dijelaskan di atas, minuman kopi yang memiliki bisa dikatakan high-end yang memang harganya mahal tapi masih ada saja yang beli, bahkan banyak penggemar setia dan tidak keberatan untuk mengeluarkan uang agar menikmati sajian yang fancy. Mengapa orang rela mengeluarkan uang hanya demi “produk mahal”, minum kopi sachetan rasanya tidak jauh beda. Pembeli tidak hanya membeli sebuah produk yang dihasilkan oleh brand tersebut tapi ada sesuatu lebih yang didapatkan oleh pembeli.

 

“Sebagaimana brand, personal brand mengandung sekumpulan nilai (benefit) yang dijanjikan seseorang terhadap klien (target market)” hal 11.

 

Di balik sebuah merek minuman, terkandung nilai-nilai yang disampaikan kepada konsumen. Beli kopi A konsumen merasa lebih high class, beli sepatu B akan tampil lebih keren.

 

Tak hanya menyampaikan dalam deskripsi sebuah produk, personal branding juga terdapat pada individu bahkan sejak mereka lahir. Diambil dalam kutipan dari Subiakto Priosoedarsono, mengatakan bahwan semua yang bernama berhak menjadi Brand. Di dalam buku ini juga menjelaskan jika sebuah citra diri tidak hanya yang baik-baik saja, atau yang bagusnya saja tapi ada juga citra diri yang jelek. Namun, karena tujuannya adalah karierm tentu saja ingin meningkatkan citra diri yang positif di depan klien atau target market.

 

Tahapan untuk mengetahui personal branding.

 

Personal branding mensyaratkan keterpaduan antara citra diri yang dikomunikasikan dengan perilaku sehari-hari. -halaman 15.

 

Masih belum apa personal branding yang kamu miliki? Berikut tahapan untuk mengetahui personal branding :

 

1.Siapa Anda? (spesialisasi pekerjaan).

 

2.Apa yang Anda kerjakan? (portofolio/expertise).

 

3.Apa keuntungan memilih Anda? (perbedaan hakiki/value).

 

Apakah personal branding dapat dibuat-dibuat?

 

Sejatinya, personal branding lebih mengutamakan nilai ayang ada pada diri, menggali sesuatu yang otentik. Namun, jika ingin menjadi seseorang yang di luar dari kepribadian kita, bisa saja terwujud, asalkan bisa dapat tercermin melalui karakter, hingga kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.

 

Contohnya saja, seseorang pecinta lingkungan akan tercermin jika melakukan beragam kegiatan seperti aktif dalam komunitas pecinta lingkungan, membuat gerakan bersih-bersih pantai, mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti memiliha sampah organik dan nonorganik, masih banyak lagi kebiasaan atau hobi yang dapat mencerminkan seseorang pecinta lingkungan.

 

Kepura-puraan akan menjadi boomerang jika tidak sesuai dengan jati dirinya, akan merasa terbebani atau tidak dapat memberikan hasil yang maksimal karena merasa terpaksa.

 

Untuk menggali value yang ada pada diri sendiri, bisa melakukan analisis SWOT :

– Strengths (kekuatan)

– Weaknesses (kelemahan)

– Opportunities (peluang)

– Threats (ancaman).

 

Atau bisa melakukan analisis pada diri sendiri, mencakup :

– Karakter : Rajin, disiplin, dll.

– Kompetensi : Kemampuan, pengetahuan/wawasan.

– Kekuatan ataupun kelebihan yang dimiliki.

 

Setelah melakukan beragam tahapan, dimulai dari mencari value, hingga meningkatkan potensi, jangan lupa untuk komunikasikan personal branding.

 

“Jangan gunakan sosial media untuk mengesankan orang, tapi gunakanlah untuk mempengaruhi orang”. – Dewi Haroen (2014)-

 

Ada tahapan sebuah merek mampu menjadi Top of mind, berikut tahapannya :

1. Unware of brand : Tidak sadar merek, dalam tingkatan ini konsumen tidak menyadari akan eksistensi suatu merek.

2.Brand recognition : Pengenalan merek. Dalam tahapan ini merupakan tingkat minimal kesadaran merek yang merupakan pengenalan merek dengan bantuan, misalnya dengan bantuan daftar merek, daftar gambar, atau cap merek.

3.Brand recall : Pengingatan suatu merek. Mencerminkan merek-merek apa saja yang diingat konsumen setelah pertama kali disebut. Merek-merek yang disebutkan kedua, ketiga dan seterusnya merupakan merek yang menempati brand recall dalam benak orang.

4.Top of mind : Merek yang secara spontan pertama kali disebut dan melekat kuat di benak orang.

 

“Anda harus maksumal dan terus melakukan promosi meski personal brand anada sudah menguat”. hal 183.

Membangun personal brand via online pada prinsipnya adalah menciptakan percakapan di media sosial. Bangun 3C, yaitu Community (Jaringan), Content (Konten), dan Conversation (Percakapan).

Bagaimana, sudah siap untuk membangun personal branding?

Sekilas tentang buku :

Judul : Personal Branding Sukses Karier Di Era Milenial.

Penulis : Dewi haroen

Disain sampul dan tata letak : Firda Haerunisah.

Penerbit : DH Media.

Cetakan pertama, Februari 2018.

ISBN 976-602-51574-0-0